|
|
6 September 2010 01:38 WIB |
|
| Belum ada data untuk kurs pajak hari ini. | |
|
|
|
|
|
|
| FREQUENTLY ASKED QUESTIONS |
|
Cetak halaman ini
Kirim artikel ke teman

| Pengurangan Pajak Bumi Dan Bangunan | |
| Dalam hal bagaimanakah pengurangan PBB diperbolehkan ?
Dalam hal :
| 1. |
Kondisi tertentu Objek Pajak yang ada hubungannya dengan Subyek Pajak dan/atau karena sebab-sebab tertentu lainnya, yaitu :
| a. |
lahan pertanian/perkebunan/perikanan/peternakan yang hasilnya sangat terbatas yang dimiliki/dikuasai atau dimanfaatkan oleh Wajib Pajak Orang Pribadi; |
| b. |
Objek Pajak yang nilai jualnya meningkat disebabkan karena adanya pembangunan atau perkembangan lingkungan yang dimiliki/dikuasai atau dimanfaatkan oleh Wajib Pajak Orang Pribadi yang berpenghasilan rendah; |
| c. |
Objek Pajak yang dimiliki/dikuasai atau dimanfaatkan oleh Wajib Pajak Orang Pribadi yang penghasilannya semata-mata berasal dari pensiun, sehingga kewajiban PBB-nya sulit dipenuhi; |
| d. |
Objek Pajak yang dimiliki/dikuasai atau dimanfaatkan oleh Wajib Pajak Badan yang mengalami kerugian dan kesulitan likuiditas yang serius sepanjang tahun, sehingga tidak dapat memenuhi kewajiban rutin perusahaan; |
| e. |
Objek Pajak yang dimiliki/dikuasai atau dimanfaatkan oleh masyarakat berpenghasilan rendah lainnya sehingga kewajiban PBB-nya sulit dipenuhi. |
|
| 2. |
Terkena bencana alam seperti gempa bumi, banjir, tanah longsor. |
| 3. |
Terkena sebab-sebab lain yang luar biasa seperti kebakaran, kekeringan (puso). | |  |
| Bagaimana tata cara pengajuan permohonan pengurangan PBB ?
| 1. |
Permohonan pengurangan diajukan secara
tertulis dalam bahasa Indonesia kepada Kepala Kantor Pelayanan PBB yang
menerbitkan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT)/Surat Ketetapan Pajak
(SKP). |
| 2. |
Isi surat permohonan menyebutkan
prosentase pengurangan yang diminta |
| 3. |
Pengajuan permohonan dilakukan dengan
ketentuan :
| a. |
Untuk ketetapan PBB s/d Rp 25.000,-
dapat diajukan secara perseorangan atau kolektif (melalui Kepala Desa/Lurah yang
bersangkutan) dengan formulir yang telah ditentukan. |
| b. |
Untuk ketetapan PBB di atas Rp 25.000,-
harus diajukan oleh WP yang bersangkutan dengan melampirkan fotokopi SPPT/SKP
PBB Tahun Pajak yang dimohonkan. |
| c. |
Untuk WP Badan, melampirkan fotokopi :
- SPPT/SKP PBB tahun yang dimohonkan;
- SPT PPh tahun terakhir beserta lampirannya.
|
| d. |
Untuk Objek Pajak yang terkena bencana
alam, hama tanaman, dan sebab lain yang luar biasa dan bersifat massal diajukan
oleh Kepala Desa/Lurah dengan diketahui oleh Camat dengan mencantumkan nama-nama
Wajib Pajak yang dimohonkan pengurangannya dengan mempergunakan formulir yang
telah ditentukan.
|
| Permohonan diajukan selambat-lambatnya 60 hari sejak
SPPT/SKP diterima Wajib Pajak.
Apabila batas waktu pengajuan tersebut
tidak dipenuhi, maka permohonannya tidak diproses, dan Kepala Kantor Pelayanan
PBB yang bersangkutan harus memberitahukan secara tertulis kepada WP/Kepala
Desa/Lurah, disertai penjelasan seperlunya. |  |
|
|