|
|
6 September 2010 02:28 WIB |
|
| Belum ada data untuk kurs pajak hari ini. | |
|
|
|
|
|
|
| FREQUENTLY ASKED QUESTIONS |
|
Cetak halaman ini
Kirim artikel ke teman

| Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang BPHTB | |
| Obyek pajak yang diperoleh siapa yang tidak dikenakan BPHTB?
| - |
|
perwakilan diplomatik,
konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik; |
| - |
|
Negara untuk penyelenggaraan
pemerintahan dan atau untuk pelaksanaan pembangunan guna kepentingan umum;
|
| - |
|
badan atau perwakilan organisasi
internasional yang ditetapkan oleh Menteri; |
| - |
|
orang pribadi atau badan karena
konversi hak dan perbuatan hukum lain dengan tidak adanya perubahan nama;
|
| - |
|
karena wakaf; |
| - |
|
karena warisan; |
| - |
|
untuk digunakan kepentingan ibadah.
| |  |
| Siapa yang menjadi subyek pajak BPHTB?
| - |
|
Yang menjadi subjek Pajak
adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh hak atas tanah dan atau
bangunan. |
| - |
|
Subjek pajak sebagaimana tersebut di
atas yang dikenakan kewajiban membayar pajak menjadi Wajib Pajak menurut
Undang-undang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.
| |  |
| Apa yang menjadi Dasar Pengenaan Pajak untuk BPHTB?
Dasar Pengenaan Pajak adalah Nilai Perolehan Objek Pajak Nilai Perolehan Objek Pajak dalam hak :
| 1. |
jual beli adalah harga transaksi; |
| 2. |
tukar-menukar adalah nilai pasar objek pajak tersebut; |
| 3. |
hibah adalah nilai pasar objek pajak tersebut; |
| 4. |
pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya adalah nilai pasar objek pajak tersebut; |
| 5. |
pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah nilai pasar objek pajak tersebut; |
| 6. |
penunjukan pembeli dalam lelang adalah harga transaksi yang tercantum dalam Risalah Lelang; |
| 7. |
peralihan hak karena pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap adalah nilai pasar objek pajak tersebut; |
| 8. |
pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak adalah nilai pasar objek Pajak tersebut; |
| 9. |
pemberian hak baru atas tanah di luar pelepasan hak adalah nilai pasar objek pajak tersebut.
| a. |
Apabila Nilai Perolehan Objek Pajak tidak diketahui atau lebih rendah daripada Nilai Jual Objek Pajak yang digunakan dalam pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan pada tahun terjadinya perolehan, dasar pengenaan pajak yang dipakai adalah Nilai Jual Objek Pajak Bumi dan Bangunan. |
| b. |
Apabila Nilai Jual Objek Pajak Bumi dan Bangunan belum ditetapkan, Menteri dapat menetapkan besarnya Nilai Jual Objek Pajak Bumi dan Bangunan. | | |  |
| Bagaimana cara menghitung BPHTB?
Besarnya pajak yang terutang :
5 % X Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak
Contoh :
| 1. |
Pada tanggal 2 Juli 1998, Wajib Pajak "A" membeli tanah dengan Nilai Perolehan Objek Pajak Rp 22.000.000,00 Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak Rp 30.000.000,00. Karena Nilai Perolehan Objek Pajak berada di bawah Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak, Maka perolehan hak atas tanah tersebut tidak dikenakan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. |
| 2. |
Pada tanggal 1 Agustus 1998 membeli tanah dengan : Nilai Perolehan Objek Pajak Rp 50.000.000,00 Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak Rp 30.000.000,00 Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak Rp 20.000.000,00 Pajak yang terutang : 5 % x Rp 20.000.000,00 = Rp 1.000.000,00 | |  |
| Bagaimana cara pembayaran pajaknya?
| 1. |
Wajib Pajak membayar pajak yang terutang dengan tidak mendasarkan pada adanya surat ketetapan pajak. |
| 2. |
Pajak yang terutang dibayar di Bank Persepsi/ Kantor Pos atau tempat pembayaran yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan dengan Surat Setoran BPHTB sebelum :
| a. |
akta pemindahan hak atas tanah dan atau bangunan ditandatangani oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah/Notaris; |
| b. |
Risalah Lelang untuk pembeli ditandatangani oleh kepala Kantor Lelang/ Pejabat Lelang; |
| c. |
dilakukan pendaftaran hak oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/ Kotamadya dalam hal pemberian hak baru dan pemindahan hak karena pelaksanaan Putusan Hakim atau hibah wasiat. | | |  |
|
|